Senin, 04 Februari 2013

Ekspansi ke pasar global, Pertamina gandeng mitra Uni Emirat Arab

Untuk memperluas bisnisnya di kancah global, PT Pertamina (Persero) menjalin kerjasama dengan dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), Sharjah National Lube Oil Company Ltd (Sharlu).
Kerja sama keduanya ditandai dengan melalui pengisian perdana Pelumas Meditran 330 ke kapal VLCC MT Arenza di Fujairah – Dubai, 31 Januari 2013. Pelumas Meditran 330 di produksi melalui LOBP (Lube Oil Blending Plant) milik Sharlu.


Hubungan bisnis Pertamina-Sharlu tidak terbatas pada produksi Pelumas Meditran series, melainkan juga jasa pengangkutan dan pengiriman hingga ke konsumen. Fujairah menjadi tempat pengisian BBM kapal tanker.


“Produksi dan pemasaran pelumas Pertamina di Fujairah merupakan solusi pemenuhan kebutuhan konsumen marine, baik kapal-kapal pengangkut minyak Pertamina maupun non Pertamina di Fujairah dan sekitarnya,” ujar VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir melalui siaran pers yang diterima, Minggu (3/2).


Sebagai contoh, selama ini VLCC Arenza dan MT Dewi Maeswara yang mengangkut minyak mentah dari Rastanura – Saudi Arabia ke kilang RU IV Cilacap menggunakan pelumas non Pertamina, mulai saat ini akan menggunakan Pelumas Pertamina.

Produksi Pelumas di Fujairah, UEA merupakan yang kedua setelah Singapura. Sejak akhir 2011, Pertamina Lubricants juga memasok pelumas bagi kapal-kapal yang singgah di pelabuhan Singapura, baik kapal Pertamina maupun non Pertamina.


Strategi maklon ini akan dilakukan di beberapa negara lain untuk mempercepat pertumbuhan bisnis Pelumas Pertamina di luar negeri.
Bisnis Pelumas marine akan menambah kemampuan Pertamina untuk mengembangkan bisnis Pelumas dengan membangun marine network sesama Distributor yang telah ada di sejumlah Negara.


Pelumas Pertamina telah hadir dan diterima pasar di sekitar 22 negara Asia Pasifik. Bahkan, Pelumas Pertamina telah pula merambah ke pasar Eropa dan Afrika melalui Swiss dan Afrika Selatan sebagai pintu pertama sekaligus sebagai negara destinasi ekspor Pelumas Pertamina ke-23 dan ke-24

Harga Emas LM tanggal 4 Februari 2013

Date : 04-02-2013 8:05:00
Buy Back Price :Rp .515.000/gram
Gram Price per Bar (Rp) Price per Gram (Rp)
250             135,000,000                           540,000
100               54,040,000                           540,400
50               27,045,000                           540,900
25               13,555,000                           542,200
10                 5,452,000                           545,200
5                 2,746,500                           549,300
4                 2,196,800                           549,200
3                 1,657,600                           552,533
2.5                 1,388,000                           555,200
2                 1,118,400                           559,200
1                   579,200                           579,200

Bursa Asia merangkak ke level tertinggi 18 bulan

Bursa Asia menanjak ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir pada transaksi pagi (4/2). Pada pukul 10.03 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific naik 0,4% menjadi 133,28. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Stock Average naik 0,3%. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,1%, serta indeks Kospi Korea Selatan naik 0,2%.

Pergerakan sejumlah saham turut mempengaruhi pergerakan bursa Asia. Beberapa di antaranya yakni: Rio Tinto Group yang naik 1,5% di Sydney dan Sony Corp yang melompat 6,4% di Tokyo. Selain itu, saham Panasonic Corp terbang 13% setelah melaporkan kinerja kuartal III tahun fiskal ini.

Analis menilai, ada dua faktor yang mengerek bursa Asia pagi. Pertama, data penambahan tenaga kerja AS. Kedua, data jasa industri China yang tumbuh tercepat sejak Agustus lalu.

"Secara umum, perekonomian global menunjukkan angka yang sangat baik. Pimpinan perusahaan menjadi lebih percaya diri mengenai outlook pertumbuhan ekonomi. Investor juga merasakan hal yang sama," jelas Matthew Sherwood, head of investment market research Perpetual Investment.

Jumat, 01 Februari 2013

Harga emas LM tanggal 1 Februari 2013

Date : 01-02-2013 8:31:00
Buy Back Price :Rp .515.000/gram
Gram
Price per Bar (Rp)
Price per Gram (Rp)
250
       135,000,000
                      540,000
100
        54,040,000
                      540,400
50
        27,045,000
                      540,900
25
        13,555,000
                      542,200
10
          5,452,000
                      545,200
5
          2,746,500
                      549,300
4
          2,196,800
                      549,200
3
          1,657,600
                      552,533
2.5
          1,388,000
                      555,000
2
          1,118,400
                      559,200
1
             579,200
                      579,200

Pertamina Kapalkan Kargo Perdana Propylene dari ROPP Balongan

PT Pertamina (Persero) mengapalkan kargo perdana propylene sebanyak 1.500 ton yang merupakan hasil produksi dari Kilang ROPP Balongan dengan tujuan pengiriman pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk.
Pelepasan kargo yang menggunakan kapal MT Gas Sumatera dilakukan oleh Direktur Pengolahan Pertamina Chrisna Damayanto di Jetty Propylene RU VI Balongan.
RCC Off Gas to Propylene Project (ROPP) di Kilang Balongan Indramayu, Jawa Barat adalah proyek pemanfaatan gas buang yang dihasilkan residue catalytic cracking/RCC menjadi propylene yang bernilai tambah tinggi. Kilang ROPP Balongan mulai beroperasi pada 14 Januari 2013.
ROPP Balongan dibangun dengan investasi sekitar US$387 juta dengan kontraktor EPC PT Rekayasa Industri dan Toyo Engineering Corporation. Adapun, kapasitas produksi propylene dari ROPP Balongan mencapai 179.000 ton per tahun.
“Kontribusi penambahan kapasitas produksi propylene nasional dari ROPP Balongan ini akan mengurangi impor propylene yang kebutuhannya semakin meningkat. Mulai beroperasinya ROPP Balongan, dan kini mulai mendistribusikan produk pada konsumen diharapkan akan menjadi milestone bagi kebangkitan kedua industri petrokimia nasional,” tutur Direktur Pengolahan Pertamina Chrisna Damayanto, dalam keterangan pers-nya, di Jakarta, Rabu, 30 Januari 2013.
Pertamina menargetkan penguasaan pasar petrokimia nasional hingga 80% pada 2025 yang diyakini dapat tercapai melalui kerjasama dengan perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional.
Sebelumnya, Pertamina telah menandatangani nota kesepahaman dengan Chandra Asri Petrochemical sebagai dasar penyusunan kesepakatan akhir untuk membentuk perusahaan joint venture untuk mendirikan pabrik polypropylene berkapasitas 250.000 ton per tahun di RU VI Pertamina, di Balongan pada 2014.
Pertamina juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan tiga perusahaan petrokimia multinasional, yaitu SK Global Chemical, PTT Global Chemical, dan Mitsubishi Corporation, yang merupakan perusahaan petrokimia terkemuka di kawasan Asia. Salah satu dari tiga calon mitra tersebut akan dipilih sebagai mitra usaha patungan untuk membangun naphta cracker yang ditargetkan dapat beroperasi pada 2017.
“Pertamina menargetkan penguasaan pangsa pasar sebesar 30% pada 2017, di mana pasar petrokimia nasional ditaksir akan mencapai US$30 miliar. Saat ini pasar petrokimia nasional mencapai sekitar US$5 miliar dengan baru 10% di antaranya merupakan pangsa pasar Pertamina,” tambah Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir. (*)

Beleid baru pajak bisa hambat investasi

Kantor pajak rupanya tengah menyiapkan sejumlah aturan demi bisa mengeruk setoran pajak lebih besar untuk tahun ini dan tahun depan. Aturan itu antara lain pengetatan pos anggaran yang bisa dianggap sebagai biaya pengurang penghasilan bruto hingga mengenakan tarif pajak yang baru.
Pengusaha mengingatkan agar pajak mengambil sikap hati-hati. Pelbagai aturan baru itu bisa kontra-produktif bagi penerimaan perpajakan. Sebab, salah-salah, bukan penerimaan pajak yang naik tapi banyak pengusaha yang susah untuk bertahan hidup. Akibatnya, pengusaha rugi dan tak mampu menyetor pajak.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, memahami upaya pemerintah untuk mendorong penerimaan pajak nasional. Tapi, ia meminta berhati-hati dalam penerapan aturan, sebab bisa mengurangi daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menjelaskan pemerintah akan melakukan intensifikasi pajak dengan cara meningkatkan ketaatan wajib pajak dalam membayar pajak. Pasalnya, "Selama ini walaupun ada wajib pajak, namun yang betul-betul bayar pajak masih rendah sekali. Kalau bisa ditingkatkan sesuai potensi dan bisa taat terhadap peraturan, potensi penerimaan pajak masih besar," kata Agus.
Menurut Agus, selama ini dari potensi wajib pajak pribadi dan wajib pajak badan yang ada, baru sekitar 10%- 14% yang membayar pajak. Makanya, selain melakukan ekstensifikasi, pemerintah juga bakal melakukan intensifikasi dan perbaikan penerimaan pajak dari wajib pajak.
Berbagai kebijakan baru juga bakal digelontorkan tahun ini (lihat tabel). Salah satunya adalah mengatur beban bunga utang yang bisa diklaim sebagai biaya. Untuk itu, pemerintah ingin membatasi rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio). Beleid seperti ini pernah diterapkan pada tahun 1980an tapi hanya bertahan setahun lalu dicabut lagi karena ada penolakan.
Menyisir WP baru
Kadin berpendapat, perlu ada kajian yang matang dan konsultasi dengan dunia usaha sebelum pemerintah menerapkan beberapa aturan baru di bidang perpajakan. Kadin lebih senang apabila kantor pajak terus memperluas basis pajak dengan cara mempermudah orang berinvestasi di Indonesia. Dengan cara ini, ia yakin justru penerimaan pajak bakal meningkat. "Upaya intensifikasi untuk meningkatkan pendapatan pajak boleh-boleh saja, tapi jangan lupa upaya ekstensifikasi. Kuenya yang harus diperbesar," kata Suryo, Rabu (30/1).
Ekonom BCA, David Sumual, setuju bila saat ini rasio penerimaan pajak Indonesia masih rendah. Namun, ia tak sepakat jika pemerintah melakukan ekstensifikasi pajak terlalu gencar. Pasalnya, jika tak hati-hati, penerapan aturan pajak baru bisa mengganggu arus investasi ke depan. "Harusnya pemerintah memastikan belanjanya maksimal dulu, dan perlu memilah-milah lagi pengenaan berbagai jenis pajaknya," ujarnya, Kamis (31/1).
Agar minat masyarakat untuk membayar pajak lebih besar, David berpendapat, pemerintah perlu memperbaiki kualitas belanja dan menggunakan penerimaan pajak untuk belanja produktif. "Selama ini, penerimaan pajak juga banyak digunakan untuk menambal beban subsidi energi yang terus membengkak dan belanja yang tidak perlu," kata David.
Pendapat senada diungkapkan Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Soelistyaningsih. Lana melihat sebenarnya potensi dari wajib pajak yang sudah ada di Indonesia masih cukup besar dan belum maksimal. Tapi, sebaiknya pemerintah fokus ke intensifikasi ketimbang menambah pungutan pajak baru.

Analis: IHSG akan mixed, cenderung positif

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada transaksi kemarin (31/1) ditutup dengan kenaikan tipis sebesar 0,73 poin atau 0,01% ke level 4.453,70. Adapun investor asing tercatat melakukan net buy di pasar reguler senilai Rp 515,34 miliar. Adapun saham yang paling banyak dibeli antara lain BMRI, BBCA, SMGR, BBRI, dan BBNI.

Kepala Riset eTrading Betrand Reynaldi menilai, secara teknikal, kenaikan IHSG kemarin mengindikasikan bahwa IHSG masih akan mengalami penguatan pada hari ini. Hal ini terlihat dari indikator MACD dan RSI yang masih menunjukkan sinyal bullish.

"Pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 4.380-4.480 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain BBCA, ROTI, dan TLKM," papar Betrand.

Sementara Research Analyst Muhammad Wafi berpendapat, pada transaksi kemarin, indeks kembali naik tipis dengan stochastic yang berada di area overbought.
Nah, pada hari ini, IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat terbatas dengan support di 4.400. "Sementara level resisten IHSG berada di level 4.472," tutur Wafi